Menggapai Masa Depan dengan Bekerja di Kapal Pesiar

Sailing Cruise atau kapal pesiar saat ini diperlukan oleh kalangan kelas menegah keatas untuk kegiatan refreshing dengan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang di atas kapal dan berkunjung ke beberbagai tempat atau negara lain. Peminat rekreasi pada kapal pesiar ternyata dari tahun ke tahun semakin meninngkat, bayangkan dalam satu kapal pesiar dapat memuat ribuan wisatawan tentunya kebutuhan banyak pegawai sangat dibutuhkan.
Pemahaman penulis tentang kapal pesiar semakin jelas ketika penulis bertemu teman SMP, yaitu bapak Trisbianto yang 20 tahun bekerja di kapal pesiar. Selepas sekolah D3 Pariwisata, beliau melamar dan diterima di kapal pesiar. Atas dedikasi, loyalitas, semangat kerja diusia 40 tahun beliau mengajukan pensiun. Hasil yang dicapai memang sangat luar biasa untuk seusia beliau tergolong sangat mapan.
Pertemuan dengan penulis setelah dua tahun sebelum beliau pensiun. Saat itu beliau tertarik untuk beternak burung kenari dan sharing dengan penulis. Satu tahun beliau mencoba beternak kenari import dan membuka Pet Shop khusus kenari. Tetapi karena kurang berpengalaman usaha tersebut berhenti. Berbekal pengalaman puluhan tahun akhirnya beliau mendirikan sekolah Diploma untuk kapal pesiar. Sekolah tersebut telah berkembang dan membuka cabang di beberapa kota di Jawa Timur. Selama dua tahun berjalan bapak Tris begitu panggilannya telah berhasil mengirimkan ratusan siswa untuk bekerja di kapal pesiar.
Pertemuan selanjutnya dengan penulis beliau meminta bantuan untuk merancang ulang website lembaga pendidikan kapal pesiarnya, yaitu Sailing Malang.

Saat proses perancangan ulang web beliau banyak berbagai pengalaman bekerja di kapal pesiar dan suka duka mendirikan lembaga pendidikan kapal pesiar. Dari sharing tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa pak Tris tidak sekedar mendirikan lembaga pendidikan kapal pesiar tetapi ingin membantu anak muda untuk dapat meraih masa depannya dengan bekerja di kapal pesiar. Beliau ingin anak muda dapat menjadikannya sebagai panutan.

0 komentar: