Pelatihan Kurikulum Mandiri Berbasis Global TIK di TK, SD, SMP, SMA

Jumat, 11 Mei 2012 hari kedua aku mengikuti pelatihan guru TIK untuk menyusun Kurikulum Mandiri TIK Berbasis Global yang berkesinambungan dari SDK, SMPK, SMAK. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Perkumpulan Dharmaputri tempat dimana aku bekerja. Dibuka oleh Sr, Myriam, SPM, SE, M.Pd pada hari sore kemarin dan dibina oleh Bu Dra. Mc. Sri Subkadiyah, MM konsultan pendidikan dari "EO QA & QC Education" Jakarta.
Peserta adalah guru TIK dari tingkat TK sampai SMA. Nah saat penyampaian materi, ada sesuatu yang menarik yang dapat dijadikan permenungan para guru TIK, yaitu komentar ahli tentang kekurang tepatan kurikulum TIK di sekolah. Berikut cuplikan komentar ahli komputer dan penulis buku TIK SMP, Onno W. Purbo.
Secara umum, pengalaman saya sebagai dosen di ITB, sebuah kurikulum sebetulnya amat sangat subjektif & sangat tergantung kepada tujuan si perancang kurikulum & si pendidik dalam menyampaikan materi-nya kepada siswa.
Saya pribadi mempunya style tersendiri dalam menyampaikan materi biasanya banyak saya sembunyikan dalam tugas kepada mahasiswa saya di ITB. Selama saya di ITB, saya mengajar tidak mengikuti kurikulum di ITB, memang judul kuliah di berikan oleh pimpinan, tapi isi materi suka-suka saya.
Terlepas dari itu semua, saya membaca materi / kurikulum yang diberikan, terus terang sebetulnya dalam hati kecil saya … saya geli sendiri kalau saya bandingkan dengan kemampuan anak-anak saya, karena kurikulum yang diberikan sangat ketinggal jauh di bandingkan kemampuan anak-anak saya. Untuk memberikan beberapa contoh bagaimana tertinggalnya kurikulum yang di ajukan, antara lain,
  • Pada saat anak saya yang berumur dua (2) tahun, dia sudah mulai mengenal mouse dan dapat menjalankan mouse untuk melalukan navigasi di komputer. Mouse adalah alat navigasi pertama yang akan digunakan oleh seorang anak. Padahal di kurikulum baru akan di ajarkan di kelas I SD.
  • Pengenalan peralatan / hardware komputer mulai di lakukan sejak anak saya berumur empat (4) tahun, karena takut merusak komputer pada saat shutdown sembarangan dll. Padahal di kurikulum baru di ajarkan kelas 1 / 2 SD.
  • Pada saat anak saya kelas TK B, dia sudah bisa menginstall software mainannya sendiri tanpa kesulitan yang berarti. Padahal dikurikulum baru akan di ajarkan kelas 1 SMU.
  • Pada saat anak saya kelas 3 SD, dia sudah biasa surfing di Internet & sangat faham teknik mencari informasi di Internet. Dia juga sudah mulai mempunyai e-mail tapi kesulitan untuk mencari lawan ber-email-nya karena tidak banyak anak Indonesia yang berada di Internet pada usia semuda itu. Padahal ini baru di ajarkan kelas 5 SD.
  • Pada saat anak saya kelas 4 SD, dia sudah biasa menulis di MSWord & Excel dari hasil dia surfing di Internet. Padahal ini baru akan di ajarkan di SMP & SMU.
  • Pada saat anak saya kelas 6 SD, network gaming merupakan bagian integral dari dia. Game strategi seperti Red Alert merupakan game mengasah otak untuk perkembangan otaknya dalam berstrategi & keberanian mengambil resiko.
Hal di atas juga ternyata terjadi pada teman-teman anak-anak saya. Bahkan beberapa di antaranya sudah bisa memaintain sendiri komputer-nya & mengoperasikan server Linux pada saat mereka kelas 6 SD.

Dalam interaksi saya dengan SMP & SMU Lab. School di Jakarta, tampaknya topik hacking merupakan topik yang mereka cari-cari dari komputer selama ini. Dalam beberapa kali kesempatan berinteraksi dengan para siswa SMP & SMU, mereka perlu mengaktualisasi dirinya … menjadi hacker adalah idaman banyak anak SMP & SMU di banyak tempat (bukan hanya Lab. School). Akibatnya topik-topik berat seperti arsitektur komputer, arsitektur jaringan komputer, teknik programming, teknik instalasi server, teknik instalasi jaringan adalah materi normal baru anak-anak SMU kelas 1 & 2 yang ingin sekali menjadi hacker. Saya seringkali berinteraksi dengan mereka melalui e-mail & beberapa di antaranya telah menginstall server & WLAN di rumahnya.

Sebetulnya sebuah kurikulum yang baik, tidak perlu memisahkan komputer dengan perajaran lainnya, tapi malah menjadikan komputer sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar. Komputer juga digunakan di pelajaran ipa, dipelajaran bahasa indonesia, di pelajaran agama, di pelajaran matematika dll. Contohnya bisa dilihat di http://www.yahooligans.com. Komputer sebetulnya hanya alat bantu & harusnya dapat membantu semua mata pelajaran, tidak perlu dipisahkan menjadi pelajaran sendiri.

Kesulitan utama yang ada semuanya sebetulnya berada di tangan guru. Beberapa hal yang perlu di perhatikan:
  • Guru harus menguasai betul materinya, ini biasanya berat karena teknologi informasi & komputer berkembang sangat pesat.
  • Guru yang baik tidak akan terikat pada kurikulum karena kurikulum akan selalu ketinggal jaman.
  • Guru yang baik akan selalu mengajak siswanya bermain dengan peralatan komputernya, walaupun sebetulnya proses pembentukan siswa terjadi.
  • Guru yang baik akan selalu mengajak siswanya untuk menjadi produsen pengetahuan; mencoba, merangkum, menganalisis & terakhir menulis hasil pencarian ilmunya di Internet.
  • Tingkat kesulitan menjadi guru demikian sangat tinggi, memang dibutuhkan skill & pengetahuan yang dalam.
Sayangnya banyak orang tua, guru, para ahli yang kurang mengerti potensi dari anak didiknya. Mereka banyak yang mempunyai kemampuan tinggi, sangat di sayangkan jika mereka tidak bisa di fasilitasi untuk menjadi maju.

2 komentar: