Hantu Ujian Nasional


Bangsa lain membicarakan tentang teknologi, investasi, kesejahteraan, prestasi. Kita malah disibukan dengan masalah geng motor, preman, teroris, dualisme PSSI, perang politik. Belum lagi pemberitaan tentang Ujian Nasional (UN) yang selalu saja negatif.

Sebagaimana diberitakan, wali siswa beramai-ramai mendatangi paranormal untuk meminta bantuan agar anaknya dapat UN. Mereka membawa alat tulis UN untuk didoai oleh sang paranormal. Sepertinya para orangtua kwatir anaknya tidak lulus dalam UN, maka mereka berupaya dengan segala macam cara agar agar anaknya dapat lulus.
Hmm, apa yang salah dengan pendidikan di negara ini. Ada yang mengatakan, "UN harus dihapuskan". Ada lagi yang bilang UN harus tetap ada untuk mengukur kualitas siswa. "Bingungkan???"
Benarkah standarisasi pendidikan oleh Departemen Pendidikan Republik dapat menjawab tantangan itu? Jika melihat letak geografis dan topologinya maka pendidikan masih belum bisa distandarisasi. Banyak daerah yang masih kekurangan guru maupun fasilitas pelengkap pembelajaran. Pemerataan pendidikan masih belum menjangkau daerah-daerah minus.
Saya bertanya pada wali murid yang berasal dari Korea Selatan bagaimana sistem pendidikan disana. Pertama-tama yang dia katakan adalah, "Di negara saya tidak ada siswa yang tidak naik kelas semua naik kelas, saya heran di Indonesia ada siswa yang tidak naik sampai dua kali bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah". Sekali lagi ia mengatakan dengan terheran-heran, "Yang gagal siswanya? atau gurunya? atau sekolahnya? atau departemennya?". Dengan senyam-senyum bego aku jawab, "Gak tau lagi buk, siapa yang salah?
Ada lagi sharing dari Danny Oei Wirianto CEO MindTalk (jejaring sosial) Chief Marketing Officer KASKUS (situs komunitas) bahwa pendidikan di negara kita hanya mengedepankan hafalan dan teori. Makanya di SMA dia pernah tidak naik kelas dan hampir putus asa. Setelah lulus dia ngotot minta disekolahkan ke luar negeri. Ia memilih sekolah dengan jurusan yang ia senangi. Setelah kembali ke Indonesia dia dapat suskses meniti karies.
Ya memang bukan salah siapa-siapa, tentunya masalah bangsa yang harus diselesaikan bersama komponen bangsa ini. Upaya pemerintah tentunya perlu mendapatkan dukungan para ahli, para guru, kepala sekolah, orangtua siswa, pemuka agama, birokrat, aparat, sampai konglomerat.

0 komentar: